Di teras rumah yang sederhana itu, ‘sang pemberani’ dan tokoh perintis berdirinya SMAK St. Ignasius Larantuka yang kemudian beralih menjadi SMA Negeri I Larantuka, banyak berkisah tentang masa-masa sulit namun indah. Di usianya yang sudah tergolong senja, Sang Tokoh yang pernah menakhodai PDI Flores Timur sejak 1973 sampai 1977 ini menuturkan kisah demi kisah dengan lancar. Ia seolah membuka kembali lembaran-lembaran pengalaman hidupnya, terkhusus di dunia politik dan pendidikan.
Saya Hanyalah Salah Satu Politisi dari Flores Timur
Beliau dikenal luas sebagai politisi ulung pada era tahun 1970-an lewat Partai Katolik. Namun, ketika sebutan itu disematkan, ia menggeleng pelan dan merendah. “Saya bukan politisi ulung. Saya hanyalah salah satu politisi dari Flores Timur.”

Tahun 1960-an (1962-1964), ia pernah menjadi Sekretaris Umum Partai Katolik Sub Komisariat Ende. Ia menyebut tahun-tahun itu sebagai masa yang sulit, ketika banyak tokoh Katolik hidup di bawah bayang-bayang ancaman. Awal tahun 1970, ia dipilih menjadi Ketua Umum Partai Katolik Sub Komisariat Flores Timur menggantikan dr. Hendrikus Fernandez, memimpin partai memasuki Pemilu 1971. Melalui Partai Katolik, namanya masuk dalam daftar calon anggota legislatif pusat bersama Frans Seda, Ben Manggrengsay, dan Vinsen Saka. Ia adalah calon nomor urut 4, namun langkahnya terhenti sebelum menembus Senayan.
Kegagalan itu diiringi oleh kekerasan yang nyata. Di Flores Timur saat itu sudah ada Sekretariat Bersama Golkar, yang memandang Partai Katolik sebagai ancaman. Lambertus dan orang-orang yang setia pada partainya dikejar, ditakuti, diancam, bahkan dipukul. Sekitar 60-an orang dari Waibalun dan Lewolere menanggung derita bersamanya. Mereka yang berstatus PNS dan tetap bertahan, gaji serta jatah berasnya ditahan tanpa ampun. “Situasi waktu itu sangat buruk dan sangat tidak adil,” kenangnya.





