Mendirikan Sekolah dari Nol
dan Harga Sebuah Keteguhan
Tahun 1967, Lambertus Tulen membuka sekolah menengah. Banyak yang meragukan: Tulen buka sekolah? Bisakah? Berbekal keberanian dan pengorbanan, ia maju terus. Sekolah itu menumpang di Gedung Paroki Katedral Larantuka, pindah ke dekat Stadion Ilemandiri, ke Kampung Baru, dan Balela. Di Kampung Baru, tiang-tiang bangunan sempat dirobohkan oleh pihak yang tak senang. Di Balela, bangunan yang hampir rampung disapu musibah banjir 1979, menghanyutkan 7 ruangan ke pantai. Sekolah yang kemudian menjadi SMAN 468 Larantuka ini akhirnya mendapat tempat baru di Batuata (kini SMA Negeri I Larantuka).
Lambertus Tulen mendirikan Yayasan Persekolahan Katolik Mandiri. Guru-guru pada masa itu digaji dengan jagung yang disimpan dalam blik kaleng, dikumpulkan oleh orang-orang Waibalun. Uang sekolahnya dua puluh lima rupiah.
Ketika SMA Santu Ignatius dinegerikan pada 1 April 1977, Lambertus mengurus semua dokumennya. Seluruh guru dan sarana prasarana dinegerikan. Namun, hanya satu nama yang dicoret dari daftar usulan pengangkatan PNS. Nama yang dicoret adalah namanya, Lambertus Tulen Hadjon. “Memang menyakitkan. Tapi, setelah direfleksikan, saya mendapatkan unsur positifnya. Saya percaya bahwa Tuhan punya maksud lain untuk saya.”
Ia kemudian mendirikan CV Mandiri. Dari usaha itulah semua anaknya disekolahkan hingga ke bangku kuliah. “Kalau saat itu jadi PNS, belum tentu semua anak saya berhasil sampai ke tempat kuliah,” kenangnya.
Rumah yang Sederhana, Hati yang Bersih





