Belum sempat berpidato, teman-temannya telah memberi peringatan. Namun, janji telah diucapkan. Teks pidatonya hanya satu lembar, membahas Komunis Internasional, Gerakan Komunis Indonesia, dan NASAKOM. Ia menyatakan bahwa para wali murid menerima gagasan Bung Karno tentang NASAKOM dalam arti NASAKOM jiwaku, dan bukan NASAKOM BERSATU. Pidato itu membuat Menteri Priyono murka.
Benarlah firasat teman-temannya. Tidak lama setelah pidato itu, Lambertus dipanggil CPM (Corps Polisi Militer). Naskah pidatonya diminta. Ia dipaksa naik ke jeep, dibawa ke Aula CIJ di Jalan Diponegoro, dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Ajudan Pemuda Rakyat. Ia mempertahankan setiap katanya, dan akhirnya dibebaskan. “Sungguh saat itu politik selalu pro-kontra. Dan, komunis amat menekan,” ujarnya mengenang masa lalu yang kelam.
Jasad yang Utuh dan
Pertemuan dengan Tokoh Bangsa
Kedekatan Lambertus Tulen dengan Mgr. Gabriel Manek terjalin sejak masa pendidikannya di SGA Ende. Bertahun-tahun kemudian, ketika jasad Mgr. Manek tiba kembali di Larantuka setelah 18 tahun meninggal dan dikuburkan di Amerika dalam keadaan utuh, Lambertus mewakili umat Keuskupan Larantuka. Dengan haru ia bersaksi: ”Tuhan beri bukti bahwa Manek itu orang bersih sehingga tubuhnya tidak hancur”.
Jejak langkahnya juga membawanya ke Istana Negara. Tahun 1963, ia ikut Kongres Partai Katolik di Jakarta. Di hadapan peserta, Soekarno berpidato tentang “Ganyang Malaysia”. Itu bukan pertemuan pertamanya dengan Sang Proklamator. Tahun 1955, saat masih di SGAK Ndao, ia pernah berfoto bersama Soekarno. Tahun 1968, di Kongres Senayan, ia berjumpa dengan Ignatius J. Kasimo, tokoh Katolik berkarakter kuat yang menyerukan dukungan bagi Frans Seda.





