In Memoriam Lambertus Tulen Hadjon: “Tuhan Tidak Ingin Saya Terlibat Dalam Permainan Kotor”  

ansel atasoge

Kampanye dalam Kegelapan

Ketidakadilan itu mewujud dalam banyak rupa. Menjelang Pemilu 1971, Ben Manggrengsay berencana kampanye di Flores Timur, namun kehadirannya tidak disukai kalangan tertentu. Lambertus menghimpun anak-anak muda Waibalun untuk menjemput sang tokoh. Secara politis, Waibalun terbelah antara Sekber Golkar dan sisa anggota Partai Katolik. Anak-anak muda Waibalun menghadang Ben Manggrengsay, memohon dengan sangat agar beliau sudi berbicara. Dan permohonan itu dikabulkan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Namun, jalan Lambertus sendiri penuh rintangan. Saat kampanye di Adonara, ia dilempar dan dihadang. Di Waiwadan, masyarakat disuruh untuk tidak mendengarkannya. Ia pun mengubah strategi. Suatu malam di Pasar Waiwadan, ia berkampanye dalam kegelapan. Mendengar suaranya memecah sunyi, orang-orang muncul satu per satu dari balik bayang-bayang, hingga akhirnya banyak yang setia mendengarkan.

Satu Lembar Pidato yang Mengguncang

Dari sekian banyak pengalaman, ada satu kisah yang paling membekas. Tahun 60-an, Dr. Priyono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, hadir di Ende dan mencela sistem pendidikan Katolik. Mgr. Gabriel Manek, SVD, Uskup Agung Ende, merasa tersinggung. Sang Uskup mengumpulkan para tokoh Katolik di SMA Syuradikara yang dipimpin Pater Donatus Djagom, SVD. Di hadapan mereka, Mgr. Manek menantang. “Siapa yang berani menyampaikan sambutan mewakili orang tua siswa di hadapan menteri di SMA Santa Ursula Ende?”

Hening. Tak ada yang berani. Risiko terlalu besar untuk melawan menteri di era ketika pengaruh PKI amat kuat dalam pemerintahan. Di tengah keheningan itu, Lambertus menyanggupi diri.

Pos terkait