Meski nama itu sudah sering terdengar, tetapi saat tiba di Ledalero, saya tidak sempat bertemu dengannya. Tahun 1987, setelah 7 tahun menjadi dosen, ia berangkat untuk belajar tingkat doktorat di Yerusalem dan kemudian Roma (1987–1994).
Workholic
Tahun 1994, rupanya Pater Servulus dipanggil pulang ke Ledalero. Saat itu dia tengah pada tahapan akhir penyusunan disertasinya. Sebelumnya, 2 tahun ia studi di Yerusalem tetapi kemudian pindah ke Roma. Di Roma ia berada di tahapan akhir, tetapi mungkin karena sudah melewati batas waktu dan juga karena ada kebutuhan, maka ia dipanggil pulang ke Ledalero.
Namun rencana itu tampaknya tidak terjadi seperti yang direncanakan. Minimal sampai ijazah saya ditandatangani, masih tertulis: Servulus Isaak, Lic. in re Biblica. Dan kemudian juga saya dengar bahwa ia akhirnya tidak kembali lagi ke Roma untuk menyelesaikan studinya.
Di Ledalero, sejak tiba ia sangat tenggelam dengan pekerjaannya dalam bidang manajemen pendidikan STFK. Dengan mobil putih yang baru sumbangan pemerintah, ia bisa gunakan untuk mengurus sekolah.
Bisa dimengerti. STFK Ledalero pasca gempa, banyak dokumen yang hilang. Kantor sebelumnya di atas Gedung Johanes rubuh total. Karena itu ia harus menata ulang, tentu banyak yang dari nol.
Pater Servulus melewati waktunya dengan menata administrasi. Kalau kerja, ia benar-benar tenggelam dalam kerja, seorang ‘workholic’, sangat keranjingan kalau sudah bekerja.
Banyak kali ia terlambat makan baik siang maupun malam. Mungkin juga karena saat makan terlambat ia pun bisa dapat sisa makanan yang ia siapkan untuk kucing yang berliaran. Di situlah terlihat kepeduliannya pada hewan yang nyaris tidak diperhatikan orang lain.







