Ia bisa menyelami bahwa belajar Kitab Suci bukan bertujuan selain untuk mendalami lebih dalam kasih Allah. Kasih yang dinarasikan dalam Perjanjian Lama dan terwujud dalam Perjanjian Baru. Kasih itulah yang mau dibagikan dalam 6 tahun yang sangat istimewa baginya.
Pengalaman kasih itu pula yang barngkali menjadi salah satu sebab kejangkitan virus Covid-19. Ia melewati hari-hari mendoakan, menjamah, memberikan pengobatan kepada orang yang sakit. Meski akhirnya covid merenggutnya, tetapi saya yakin pelayanan 6 tahun sebelum wafat adalah saat yang paling indah dalam hidupnya. Ia seakan meninggalkan semua dan yang ada padannya hanyalah membantu orang.
Inilah kematian yang rasanya sulit kami terima. Kami ingin agar kematianmu bisa ditangisi dan bisa dirayakan. Minimal saat itu mau mendengar aneka kesaksian. Tetapi barangkali itu tidak sejalan denganmu yang lebih memilih bekerja dalam keheningan dan ingin wafat dalam kesunyian pula.
Kasih dan doa seperti inilah yang tentu ia lanjutkan di Surga. Karena dari Surga (tanpa rokok tentunya) ia bisa terus melayani, melihat dan mendoakan semua orang yang masih berziarah, terutama agar covid tidak menelan begitu banyak korban lagi. Terima kasih Pater.
Robert Bala, Murid Pater Servulus 1994-1996







