Karena dedikasinya pada pendidikan ini maka setelah 2 periode jadi Ketua STFK Ledalero (1994–2003), ia barangkali mau tarik napas panjang untuk bisa bernapas legah. Tetapi ternyata tidak demikian. Hanya 2 tahun sesudahnya ia diminta berpindah ke Ruteng. STKIP Santu Paulus Ruteng tengah mengalami prahara. Kehadiran Pater Servulus dianggap solusi yang tepat. Semua imam (baik SVD maupun projo) adalah muridnya. Dengan demikian ia hadir benar-benar sebagai bapa bagi semua, Prahara itu pun perlahan menuju akhir yang baik.
Di STKIP Ruteng, pastor yang tamat di SMP Kisol (1957-1960) dan SMA Seminari Mataloko (1960-1964) ini bisa melakukan perannya dengan baik. Dua periode (2005 – 2011) kepemimpinannya bisa meletakkan dasar yang kuat Sekolah Tinggi yang kini telah menjadi Universitas Santu Paulus itu.
Tidak hanya itu. Setelah selesai tugas yang mahaberat itu, ia masih dipilih jadi Provincial SVD Ruteng. Kali ini hanya satu periode (2011-2014) karena ia merasa sudah terlalu tua. Ia berumur 70 tahun dan 40 tahun imamat, sebuah periode di mana ia bisa lebih fokus pada pelayanan yang ia senangi.
Sangat Perhatian
Secara pribadi saya kenal Pater Servulus di awal-awal setelah tiba di Ledalero tahun 1994. Tahun setelahnya, 1995, sebagaimana tradisi, STFK Ledalero mengadakan pertukaran mahasiswa dan dosen dengan Sekolah Teologia (calon pendeta) Kupang. Program ini dimulai tahun 1977 oleh Pater Henrich Heekeren, SVD, dosen Kitab Suci STFK Ledalero yang kemudian terpilih jadi Superior General. Maksudnya agar para calon imam dan calon pendeta sejak awal bisa bekerjasama).







