Janji Ikhwal, Bukti Sulit; Diterima dan Ditolak

JOHN NABEN1

Peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem dalam kemuliaan itu, juga merupakan satu peneguhan untuk para murid bahwa kematian Yesus bukanlah satu kekalahan. Kematian Yesus bahkan merupakan satu cita-cita mulia akan rencana Allah demi penyelamatan umat manusia, termasuk anda dan saya.

Rencana Allah itu segera akan terwujud dan Yesus sudah siap menerima kenyataan ini. Kenyataan yang menyakitkan sebab batas antara ‘menerima dan menolak’, ‘cinta dan benci’ sangat tipis. Pada saat orang mendapatkan keuntungan dari Yesus, Dia dihormati, disanjung, dielukan, dimuliakan dan diterima. Namun ketika orang tidak lagi mendapat sesuatu, Yesus dihujat dan ditolak. Seperti yang kita dengar dan saksikan pada hari ini, teriakan ‘Hosana Putera Daud’ bisa berubah begitu cepat dengan teriakan ‘Salibkan Dia’. Janji Ikhwal sebelumnya, kemudian sulit dibuktikan. Ucapan yang menyatakan kesediaan menjadi murid atau pengikut-Nya dari pihak orang banyak dan kita berubah menjadi sebuah penghianatan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Meskipun teriakan ‘Hosana’ yang melambung berubah menjadi ‘salibkan Dia’, mengancam nyawa, Yesus tetap maju. Rencana Allah harus terwujud – keselamatan umat manusia harus terlaksana melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Kesetiaan-Nya harus terbukti dan ketaatanya mesti tahan uji.

Oleh karena itu, siapakah pribadi Yesus pada Minggu Palem ini? Pertama, Yesus adalah satu tokoh, satu pribadi yang yakin akan perutusan-Nya. Sikap orang Yahudi yang berubah-ubah, tidak menggoncangkan keyakinan-Nya sebagai utusan Allah. Ia berpegang teguh pada rencana Allah dan bukan pada sikap manusia. Yesus tidak ‘pling-plang’, atau hari ‘ia’, besok ‘tidak’. Dia taat dan setia kepada Bapa-Nya.

Pos terkait