Kedua, Yesus tetap berbuat baik kepada semua orang. Dia tahu bahwa orang-orang yang disembuhkan dari berbagai macam penyakit, yang Dia beri makan sampai kenyang saat kelaparan, yang Dia mengajar dan mereka pura-pura dengar, merekalah yang hari ini berteriak ‘Hosana Putera Daud’ esok mereka juga yang berteriak ‘Salibkan Dia’.
Ketiga, Yesus adalah Raja pembawa damai bukan raja seperti yang diharapkan oleh para pemimpin Yahudi. Hal ini ditunjukkan Yesus dengan menunggang seekor keledai; dan bukan seekor kuda, misalnya. Yesus adalah Raja damai bagi semua orang, termasuk lawan-lawan-Nya. Dia adalah penebus dan Juruselamat dunia, terutama bagi yang papah, miskin, lapar dan yang terasing. Dia yang telah berkeliling sambil berbuat baik, mewartakan kerajaan damai dan kasih tanpa memilah-milah kawan atau lawan. Bagi Yesus kerajaan pengampunan yang harus hidup dalam hati manusia. Ia masuk menawarkan damai, sukacita dan hidup abadi bagi siapapun yang mau menerima-Nya dalam kerendahan hati.
Keempat, Yesus adalah yang termiskin di antara yang miskin. Yesus menggunakan keledai pinjaman. Benar, bahwa dalam banyak peristiwa hidup-Nya, Ia selalu menunjukkan betapa Allah menjadi manusia itu adalah yang tidak punya apa-apa dan termiskin dari mereka yang miskin, agar semua orang (termasuk anda dan saya) menjadi kaya karena kemiskinan-Nya. Bagaimana tidak? Dari sejak lahir, Ia pinjam palungan tempat makan binatang oleh Yusuf dan Maria, untuk dibaringkan. Ketika Ia mengajar, Yesus juga meminjam perahu orang (Simon Petrus). Ia juga pinjam roti dan ikan dari bekal seorang anak kecil supaya bisa memberi makan orang banyak, bahkan ketika Ia mati pun, Ia pinjam kubur orang lain. Semua itu dibuat agar manusia memperoleh keselamatan dan kebahagiaan.





