Kelima, Yesus tidak mencari kemegahan, Ia tidak mencari nama dan pujian, Ia juga tidak mencari muka dan popularitas diri, apalagi harus mengorbankan orang lain. Karena Yesus tahu bahwa semuanya itu percuma, sia-sia, tidak ada arti, semu, tidak penting. Bagi Yesus tujuan hidup dan kehadiran-Nya hanya satu, ialah melaksanakan kehendak Bapa-Nya, taat dan setia. Itu berarti, kini Yesus memerlukan hati, diri, hidup dan keluarga kita untuk dipakai oleh-Nya untuk membawa damai, kasih dan pengampunan. Tuhan memerlukan kita. Tuhan memerlukan yang setia, taat, teguh, tidak takut, yang tidak lari dari Dia dan dari iman kepercayaan kita kepada-Nya, tetapi membuka dan membiarkan hati kita agar Ia boleh masuk dan tinggal, juga dalam sukacita kegembiraan tetapi juga dalam duka derita yang sedang kita alami.
Dan pada akhirnya, Yesus adalah Raja yang menderita. Dia menderita karena harus menanggung dosa banyak orang (anda dan saya), juga karena Yesus berpegang teguh pada rencana Allah. Kita semua adalah pengikut-Nya. Kita telah berjanji untuk menjadi murid-Nya yang setia. Tetapi, bukan murid atau pengikut yang berubah-ubah; bukan pengikut yang setengah-setengah; bukan pengikut yang asal nama; bukan pengikut Nafas-Nikmat; atau bukan pengikut yang sejak dari Natal, baru muncul lagi hari ini. Menjadi pengikut Yesus, harus beriman dan setia pada-Nya dalam suka dan duka, di waktu malang dan untung, dan taat disepanjang ziarah hidup kita. ****
Penulis, Rohaniwan Katolik, tinggal di Novisiat SVD Kuwu, Ruteng





