Jejak Rahim Pancasila di Biara St Yosef Ende

P hendrik daros

Kedua pastor di sela sela diskusi hangat dengan Bung Karno, melontarkan dua pertanyaan medasar. Pertama, “di manakah tempat mamamu yang beragama Hindu itu di dalam negara yang mayotitas Muslim?” Lalu pertanyaan kedua: “di manakah tempat bagi orang orang Flores yang mayoritas Katolik dalam negara yang Marxis dan mayoritas Muslim itu?”

Konon, atas kedua pertanyaan menantang itulah yang membuat Bung Karno berpikir keras. Fokusnya, tentang bagaimana merumuskan dasar negara yang akan dibentuknya sungguh menjadi rumah bersama bagi segenap bangsa dengan berbagai latar belakang suku, agama, ras dan antargolongan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kedua pertanyaan terus menginspirasi dan menantang Bung Karno untuk mengkajinya secara cermat. Sang Pejuang lalu mematangkan kajiannya melalui permenungan khusus untuk menggali  dan menghimpun butir-butir dasar negara bernama Pancasila. Uniknya lagi, permenungannya itu dilakukan pada Jumat malam, di bawah naungan pohon sukun, menghadap ke laut Pantai Ende. Pohon sukun “sakral” yang kini bertahan adalah duplikatnya. Posisinya  di titik yang sama, persisnya di tepi barat Lapangan Perse Ende, kini dalam kompleks Taman Rendo.

Pengakuan Bung Karno

Tentang kisah permenungan khusus Bung Karno menggali dan merumuskan sila-sila Pancasila ketika menjalani masa pembuangan di Ende, tentu saja tidak diragukan. Sumbernya justru dari pengakuan Bung Karno sendiri. Setelah menjadi Presiden pertama RI, Soekarno berkesempatan mengunjungi Ende, tahun 1950. Saat berpidato di Lapangan Perse Ende, Sang Proklamator dilaporkan sempat menunjuk pohon sukun di tepi barat Lapangan Perse Ende. Sang Presiden ketika itu mengakui, di bawah pohon sukun itulah ia merenung dan menggali butir-butir mutiara yang kemudian menjadi rangkaian Pancasila (Dami Mukese, buku yang sama, hal. 299).

Pos terkait