Tidak bisa disangkal kalau P. Johanes Bouma SVD dan P. Geradus Huijtink SVD meninggalkan jasa amat berharga bagi bangsa dan negara Indonedia yang berlandaskan Pancasila. Mungkin bukan Pancasila yang mejadi pilar idelogis bangsa Indonesia, jika perjuangan Bung Karno tanpa jejak persahabatan dengan kedua pastor Belanda itu. Dua pertanyaan menantang P. Johanes Bouma SVD dan P. Geradus Huijtink SVD dalam percakapan itens dengan Bung Karno, ternyata jadi pendorong kuat bagi Sang Pejuang hingga berhasil melahirkan Pancasila.
Seperti diakui pemrakarsa pembangunan Serambi Soekarno Ende, P Henri Daros SVD, percakapan intens antara Bung Karno dengan P. Johanes Bouma SVD dan P. Geradus Huijtink SVD selalu berlangsung di ruang tamu Biara St Yosef Ende. Karena menjadi jejak sejarah bernilai tinggi, maka ruang tamu lalu dipugar menjadi Serambi Soekarno. Beranda bersejarah itu langsung dilengkapi pojok baca sejarah perjuangan Bung Karno, patung Bung Karno dan juga lukisan yang menampilkan Bung Karno bersama dua sahabatnya, P. Johanes Bouma dan P. Geradus Huijtink (serambinews.com, 29/11/2020).
Ujud pembangunan Serambi Soekarno, jelas. Sepenuhnya mengenang perjuangan sekalian menghormati jejak persahabatan Bung Karno dengan para tokoh misionaris Katolik ordo SVD terutama Pater Bouma dan Pater Huijtink. Karena jejaknya tegas dan monumental pula, maka sepantasnya menempatkan Serambi Soekarno sebagai jejak awal rahim Pancasila.
Kehadiran Serambi Soekarno semakin memperkaya jejak perjuangan Sang Prokalamtor ketika menjalani masa pembuangan di Ende. Masih banyak jejak lainnya. Di antaranya rumah tempat tinggalnya yang telah menjadi Situs Bung Karno. Juga ada patung Bung Karno sedang merenung, di sekitar pohon sukun, yang juga disebut sebagai Pohon Pancasila. (*)





