Saya hanya bilang, “Wah, Bapak Uskup Anglikan mau bertemu Pauskah?” John hanya senyum kecut. Dan ia hanya bilang “Beo, kau kurag ajar, betul.” John terlihat bersikap kaku dengan ‘pakaian berciri klerus itu.’ Saya dengan bakat koment tetap serang-serang ringan, “Tuan pasti takut dicegat pengawal Swiss untuk masuk Vatikan. Makanya, tampil gagah.”
Saya pun masih lanjut, “Pemandangan langkah ini mesti diberitakan di BPE.” BPE itu “Berita Provinsi Ende.” Isinya seputar informasi keadaan Provinsi SVD Ende.
Dengar celotehan itu, John cuma tertawa saja. Tetapi, salah tingkah, itu tadi, tetap tak ia kuasai.
Bila berkisah tentang John Prior, ada banyak isi yang rasanya tak termuat dalam forma baku. Sebab John harus ditangkap dengan pikiran cerdas. Dan itu yang ia inginkan. Hanya membeo pada satu dua pikiran kaku dan baku, itu bukan karakternya. Bukannya ia anti yang dogmatis. Tetapi bahwa, ‘pikiran kita itu harus nakal untuk bertanya dan mengkritisi.’
Saya jadinya merenung serius. John Prior punya kebiasaan untuk pasang titik-titik api. Maksudnya jelas. Agar ruang kuliah atau tempat pertemuan itu ‘jadi kebakaran.’ Bila hanya sebatas ‘berasap’ maka yakinlah John Prior pasti akan bersuara bagai ‘siram-siram bensin’ untuk bikin tambah ‘bernyala.’ Ini benar-benar ciri dosen yang mengobok-obok apa pun yang ‘ditabernakelkan’ dalam otak. Tampaknya John sedikit alergi dengan ‘yang mapan-mapan, yang terikat, yang nyaman.’
Jelas, pikirannya kritis. Pisau analisisnya tajam. Munculkan konklusi yang sering tak terduga. Mengagetkan. Namun mencerahkan. John punya pengetahuan amat luas. Tak terbantahkan bahwa ia tekun bersahabat dengan buku-buku. Dua puluh empat jam kesehariannya dapat dipecah-pecahkan amat luar biasa. Ada John Prior yang mengajar, beri seminar, bimbing skripsi, beri retret. Ada John yang juga setia layani umat. John selalu punya waktu dengan kaum pinggiran. Ia bersahabat sejuk dengan para tahanan.





