John Prior, SVD dan Baju Colar itu…

Kons beo3

Ada hal menarik yang tetap teringat. Sebelum misa di Ledalero, John punya kebiasaan bermeditasi biblis. Dia duduk sambil kaki terlipat di bangku kapela. Ada Alkitab di pangkuannya. Bisa jadi, itulah sebabnya, kotbah-kotbahnya amat menukik dan tajam. Sebab ia telah bersahabat intim dengan Sang Firman sebelum ‘menguraikannya.’ Tentu dengan caranya yang ‘tidak menjemukan dan tidak bikin mengantuk.’

Mari kembali lagi ke pakaian colar itu. Yang ‘terpaksa ia kenakan.’ Siapa pun yang kenal dan ikuti John, pasti tahu. Ia suka sekali ‘utak-atik’ dalam auto – kritik yang tegas tentang gerak hidup kaum berjubah. Ia tak segan kuliti diri sendiri sebagai imam. Sambil tentu punya harapan agar ‘anak-anaknya’ mampu membalutnya dalam cara pandang yang baru dan segar.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kini, John Prior, SVD asal Inggris itu telah pergi. Telah puluhan tahun ia telah jadi sosok unik dan fenomenal. Kita telah ia tinggalkan  dalam segala keistimewaannya. John Prior adalah litania kata-kata yang menggelegar. Ia adalah tampilan seadanya. Yang tak repot dengan segala kegemerlapan. John adalah juga adalah ‘sikap dan tingkah yang menyerempet.’ Yang sering bikin kaum santun terganggu. Sebab ia senang jika ‘ia berhasil dalam mengusil.’

Entahkah saat ini, para konfrater di Ledalero membaringkannya dalam peti jenasah dengan ‘baju kolar, jubah dan kasula baru’? Saya sedikitnya yakin bahwa sekiranya John Prior tak mengimpikannya. Andai disuruh memilih, mungkin saja John lebih berkiblat pada pakaian sederhana seorang petani di Wolofeo. Atau meminjam baju seorang tahanan di lapas Maumere,  atau malah pakaian kerja buruh kasar di Pelabuhan Maumere untuk dikenakannya. Agar pulang kembali menghadap Tuhan dan penciptanya. Seperti tampilannya di kesementaran bumi nan fana.

Pos terkait