Dan pada saat akhir hidup-Nya, dari atas Salib, Yesus menunjukkan secara jelas, nyata, mengharukan apa artinya mengasihi dan mengampuni semua orang. Dia menerima ciuman Yudas dengan rangkulan, dengan senyuman, juga dengan sapaan (lih. Mat. 26:48-50; Luk. 22:47-53). Dia menempelkan kembali telinga Malkhus yang putus oleh pedangnya Simon-Petrus (Cf. Mat. 26:51; Mrk. 14:47; Luk. 22:51; Yoh. 18:10), dan pengampunan Yesus, yang tiada duanya adalah berdoa kepada Bapa untuk prajurit yang menganiaya-Nya, juga orang banyak yang menyalibkan-Nya: ‘Ya, Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’ (Cf. Luk. 23: 34). Dan kepada penjahat yang bertobat, yang berkata: ‘Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja’ (Cf. Luk. 23:42); dan kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus’ (Cf. Luk. 23:43).
Seluruh hidup Yesus adalah satu tindakan pengampunan Allah mulai dari penjelmaan sampai wafat-Nya di salib. Itulah puncak dari tindakan pengampunan Allah bagi kita manusia. Oleh perbuatan dosa, sebenarnya manusia memberontak terhadap Allah; atau manusia memusuhi Allah. Tetapi kerahiman Allah jauh lebih besar dari dosa manusia. Allah yang maharahim memiliki hati yang terbuka untuk mengampuni orang berdosa, yang mau bertobat. Dan itu masih ditunjukkan pada saat terakhir hidup-Nya. Mungkin masih beberapa menit lagi Yesus mau menyerahkan Roh-Nya kepada Bapa. Pada saat itu, Yesus berkata kepada penjahat yang bertobat: hari ini juga, engkau berada bersama Aku di dalam Firdaus.







