Oleh Pater John Naben, SVD
Adalah sebuah kenyataan bahwa permusuhan antara manusia sudah terjadi sejak awal adanya manusia itu sendiri. Kain membunuh Habel saudaranya sendiri, karena cemburu atas persembahan yang diterima Tuhan (Bdk. Kej. 4). Dan sejak saat itu, perang, permusuhan, pembunuhan berulang kali terjadi dalam sejarah hidup manusia sampai saat ini.
Manusia makhluk yang berakal budi juga berperasaan; katanya mau mencari kebenaran atau keadilan namun dengan cara yang salah; kekerasan. Satu tindakan yang sebenarnya sangat tidak manusiawi. Setiap masalah tidak ditempuh dengan jalan damai, tetapi harus dengan kekerasaan. Kekerasan sudah pasti tidak akan menyelesaikan masalah, dia malah menimbulkan masalah baru. Dan masalah itu akan semakin sulit diatasi.
Syukur kepada Tuhan dan kepada masyarakat Manggarai, bahwa sudah kurang atau tidak terjadi lagi perang antar suku, antar kampung, atau di antara keluarga sendiri dengan alasan apa saja. Jalan kekerasaan sudah diganti dengan jalan damai, jalan dialog dan jalan musyawarah.
Tetapi percecokan, perselisihan, pertikaian mulut satu terhadap yang lain, pasti masih terjadi. Secara keseluruhan, perang antar negara, antar suku, antar kubu, antar kelompok yang satu dengan yang lain atau juga pertentangan atas nama agama masih terjadi diseantero jagat, juga di wilayah NTT kita ini.
Di tengah situasi dunia yang semacam ini, Yesus berkata kepada para pengikut-Nya: ‘Kasihilah Musuhmu’. Mungkin kita berpikir bahwa kita tidak punya musuh. Coba kita perhatikan secara saksama, kata-kata yang ada hubungan dengan musuh, misalnya: benci, cemburu, curiga, dendam, dengki, iri hati, jengkel, marah, membicarakan nama orang lain, menebar hoaks, mengutuk, sikap tidak peduli dengan orang lain, ingin agar orang yang tidak disenangi mendapat celaka atau bencana, dll.







