Mungkin kita bersikap lain. Kalau ada orang yang sudah menyakiti hati, timbul dalam diri kita rasa jengkel, marah, dendam; dan ada dorongan dari dalam diri kita untuk membalasnya secara langsung atau secara sembunyi-sembunyi, kita membangun niat serta berharap agar musuh kita itu mendapat celaka atau musibah.
Yesus mengajar kita untuk tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan, malah kita diminta untuk pasrah. Jika orang menampar pipimu yang satu, beri juga pipimu yang lain. Mungkin sulit bagi kita manusia, tetapi sungguh merupakan ajaran yang sangat luar biasa dari Tuhan kita Yesus Kristus.
Sejarah manusia dari masa ke masa selalu disertai dengan peperangan antar bangsa, antar negara, antar suku, antar kampung dan juga antar manusia yang satu dengan yang lain.
Di tengah situasi hidup manusia semacam ini, Yesus tampil dengan ajaran-Nya yang luar biasa; Dia mengajarkan dan menerapkan hukum kasih. Mengasih semua orang adalah biasa, yang luar biasa ialah mengasihi musuh. Yesus juga menjabarkan hukum kasih itu dengan mengatakan ampuni orang yang berbuat jahat kepadamu, doakan orang yang membencimu; bantulah orang yang berkekurangan. Dan kalau ada yang ambil bajumu, beri juga jubahmu.
Semua itu diajarkan oleh Yesus dengan perkataan dan perbuatan; dengan ucapan dan contoh; dengan lidah dan aksi; dengan sentuhan kasih. Yesus bukan hanya mengajar tetapi menunjuk dengan cara hidup-Nya sendiri. Selama hidup-Nya, Yesus berbuat baik. Orang sakit disembuhkan, orang mati dibangkitkan, orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang tuli mendengar. Yesus juga memberi makan bagi yang lapar, dan memberi air kepada yang haus.







