Ketika ‘Nafsu Kemurnian’ Menjerat

Kons beo5

Dan alam selanjutnya? Harmoni sejuk kehidupan mulai tergoyah. Telah tampil kelompok sektarian puritan yang tak hanya peka mengenai apa yang harus ditaati. Tetapi bahwa ia juga sekian sensitif akan siapapun dan apapun yang dianggap anti kemurnian. Dan di saat ‘nafsu kemurnian’ mulai membara, maka tunas-tunas intoleransi segera bersemi.

Bendera-bendera ‘hanya kami yang murni’ telah dikibarkan. Huru hara dan segala keributan yang bernyawa anarkisme adalah ekspresi dari ‘nafsu kemurnian’ yang brutal. ‘Nafsu kemurnian’ yang dipertebal oleh ‘libido politik identitas’, misalnya, telah membutakannya segalanya. Akibatnya?

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Tragedi ‘Nafsu Kemurnian’

“Kalian sepantasnya dijauhkan, berjarak, berseberangan, terpisah, disingkirkan, dipinggirkan, diasingkan, ditekan, dipersulit serta diperkusi, sebab  ‘kalian bukanlah kaum yang murni.’ ‘Nafsu kemurnian’ telah jadi primat yang membenarkan sekelompok orang ‘yang mengaggap dirinya benar (murni).’ Ditilik sebagai senjata ampuh demi pembenaran yang tragis.

Nafsu kemurnian seperti kata Goenawan Mohamad dimaksudkan “agar yang najis habis dan dunia jadi murni.” Maklum! Dunia telah ditatap dalam cemas bahwa  telah ‘bersileweranlah  yang najis, dosa, kepalsuan dan hipokrisi’ (2017).

Tetapi, tidakkah bendera ‘nafsu kemurnian’ telah berkibar di abad-abad silam? Di saat peradaban pribumi Amerika (selatan) ditekan, dicabut dan dirampas dari keasliannya? Tidakkah ‘nafsu kemurnian’ telah masuk jalur miris dehumanisasi yang sungguh tragis?

Mari Pulang kepada Sesama

Pos terkait