Ketika ‘Nafsu Kemurnian’ Menjerat

Kons beo5

Di waktu kini, inkultulturasi tak lebih dipandang sebagai ‘pertobatan budaya.’ Keaslian budaya dan kearifan lokal yang (pernah) terbelenggu dan tersekap mesti dipanggungkan (kembali) secara benar dan sehat serta pada tempatnya pula. Demikian pun dialog yang beraroma toleransi dan kerukunan telah dialami sebagai pertobatan hati.

Tetapi, apakah semudah itu ‘nafsu kemurnian’ akan menjadi senyap? Atau hilang untuk selamanya? Tak ada yang indah yang dapat ditangkap dari ‘nafsu kemurnian’ itu. Ia tetap hadir dalam cemas dan gelisah. Yang bisa menggelegar dalam kekerasan, dalam bentak dan hardikan yang bertolaki hanya dari satu titik pandangan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Selalu lemah di jiwa untuk melihat dan mengakui bahwa ada perbedaan yang memperkaya. Bahwa variasi itu adalah modal paling berharga demi satu mozaik kehidupan. Sebab yang terutama adalah iman yang mempersekutukan. Menyapa semesta dalam kekariban.

Pusaran Arus Etnosentrisme

Tak pernah dinafikan pula bahwa ‘nafsu kemurnian’ pun bertumbuh subur dan cenderung liar dalam lahan etnosentrisme yang kebablasan. Di situ orang mudah menjadi cemas dan tidak percaya diri tentang dari mana ia berasal dan apa sebenarnya yang jadi adat kebiasaan serta tradisi keasalannya. Dan di situ ia menjadi tak cerdas dan bijak untuk menstigmakan yang lain dengan segala kedangkalan dan kesempitan sudut pandang.

Bukankah cemas diri pada pusaran ‘nafsu kemurnian’ dengan mudah mendera yang ‘bukan kita’ atau orang lain dengan segala label yang degradatif sifatnya? Di situlah superioritas ‘nafsu kemurnian’ temukan pembenarannya walau dalam kerangka kosong sebagai motifnya.

Pos terkait