Akhirnya
“Jika pola pakaian yang kukenakan, jenis makanan-minuman yang kusantap, pun segala atribut yang tertempel pada diriku hingga isi dan pola pikirku hanya sebatas di jalan pembedaan penuh cemas dari yang lain, maka segeralah ‘nafsu kemurnian’ menanti sebagai muaranya.”
Sepertinya kita mesti berhenti (total) dari sifat penuh ketamakan akan ‘nafsu kemurnian.’ Sebab jika tidak, style hidup hanya sebatas glorifikasi diri namun penuh rapu. Sebab, jalan hidup setiap kita selalu dalam proses menuju kesempurnaan. Sempurna di dalam Bapa Pencipta semesta.
Iya, itulah yang diajarkan oleh Tuhan dan Guru dari Nazaret, “Estote ergo vos perfecti, sicut et Pater caelestis perfectus est”, Hendaknya kamu sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya” (Mat 5:48). Jika ingin belajar menjadi sempurna seperti Bapa, maka belajarlah ‘memeluk semesta.’ Sebab Bapa adalah Tuhan dari dan untuk semesta.
Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro-Roma







