Iya, sudahlah. Uruguay, kali ini, harus akui kehebatan Timnas Portugal. Dua gol Bruno Fernandez memang jadi petaka. Namun, masih ada kesempatan lain untuk hancurkan Portugal. Tetapi, dari pertandingan Portugal vs Uruguay, masih ada satu hal yang ternilai ‘keistimewaan.’
‘Keistimewaan’ itu bukan pada CR 7. Bukan pada kegarangan Pepe yang biasanya cenderung main kasar ‘kuda kayu.’ Bukan pada adegan seorang suporter ‘yang tembus masuk stadion.’ Bukan pada nasib Uruguay, yang hingga pertandingan kedua di penyisihan grup itu, tak ciptakan satu gol pun. Semuanya bukan!
“Aura balas dendam.” Iya, gelora untuk kalahkan Uruguay itulah yang terhembus. Tidak kah itu strategi psikologis untuk satu tindakan balas dendam Portugal terhadap Uruguay. Rasa sakit hati dibangkitkan. Bara kemarahan ditiup-tiup.
Di empat tahun kemarin, di Piala Dunia 2018 itu, pil pahit sudah ditelan Portugal. Selecao terpental ketika itu dengan kekalahan 0 – 2 oleh Uruguay. Ronaldo dkk, tak sanggup lewati babak 16 besar. Inilah saatnya dendam Portugal harus terbayarkan. Ramai surat kabar memberitakannya.
Dalam dunia olahraga memang ada kenyataan balas dendam. Dan itu, tak hanya pada sepakbola. Banyak cabang olahraga lain juga yang bernafaskan balas dendam. Yang lebih mengerikan itu, jika ada satu pertarungan ulang pada tinju. Yang kalah atau rasa dicurangi sebelumnya, terpanggil bahwa inilah saatnya untuk “mata ganti mata dan gigi ganti gigi.”
Dunia olahraga memang sering beraroma balas dendam. Namun, tak berarti sisi kehidupan lainnya bebas bau-bau balas dendam? Tidak kah kekacauan, keributan serta rupa-rupa kekerasan telahir dari rasa tak puas. Lalu diproyekkan dalam aksi balas dendam?







