Barisan Sakit Hati (BSH) adalah kelompok yang merasa terluka, tersudutkan, terkalahkan, diabaikan, serta dianggap bukan ‘right man on the right place.’ Balas dendam lahir oleh rasa tidak puas dan kemarahan yang tersimpan. Dan berikhtiar sungguh untuk membayar rasa sakit hati itu.
Selidiki saja gema miring hidup sosial-kemasyarakatan. Kekerasan yang terjadi bisa dipicu oleh gejolak balas dendam. Sekedar untuk bilang “kamu orang, kita juga orang!” Hidup kita sering tak lebih dari parade aksi dan reaksi, tesis dan antitesis, jual dan beli. Sebab katanya, “Lu jual, beta beli….”
Bagaimanan pun, balas dendamnya Portugal terhadap Uruguay adalah satu ‘taktik keindahan dan bermartabat.’ “Mengalahkan yang tak menghancurkan dan merusakkan. Apalagi membunuh.” Ini tentu berbeda telak dengan gelora pahit barisan sakit hati. Yang dendamnya terus terulang dan berulang terus. Entah sampai kapan selesainya?
Hidup kita sepertinya tetap dibayang-bayangi, tak hanya oleh politik balas dendam yang lahirkan barisan sakit hati di pihak mereka. Tapi juga ditempel oleh politik balas jasa, yang ciptakan lingkaran oligarki di pihak kita.
Wah, aneh-aneh saja…
Tapi, kita jangan lupa ucapkan auguri, proficiat untuk Selecao, Portugal. Pasukan Fernando Santos itu telah masuk untuk fase berikutnya. Entahkah Ronaldo, sebagai kakak, doakan, Messi, adiknya, untuk turut juga bisa masuk ke fase itu…? Kita nantikan saja.
Verbo Dei Amorem Spiranti
Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma







