(Merenung kisah sedih Ustad Abdul Somad di Tanah Merah-Singapura)
Oleh P. Kons Beo, SVD
“Lidah itu sangat kecil dan ringan, tapi bisa mengangkatmu ke derajat paling tinggi dan bisa menjatuhkanmu di derajat paling rendah” (Imam Al Ghazali, Teolog muslim-Filsuf Persia, 1058-1111.
Kisah Miris di Hari Itu
Rencana liburnya ke Singapura itu gagal total. Ustad Abdul Somad (UAS) sungguh dirundung sedih. Itu tergambar dari raut wajahnya. Saat dalam wawancaranya dengan salah satu stasion TV swasta. Kisah ‘tertahannya’ UAS setidaknya telah menggelegar di tanah air.
Senin, 16 Mei 2022 itu Abdul Somad bersama enam pendamping telah tiba di Terminal Feri Tanah Merah Singapura. Sayangnya, UAS mesti tertahan di situ. Otoritas Singapura melalui MHA (Ministry of Home Affairs – Kemendagri Singapura) memblokir rencana pelesir di Singapura itu. Dan bahkan akhirnya UAS mesti ‘balik pulang hari itu memang.’ Dengan feri yang sama.
Betapa sadisnya Singapura. Tampaknya tak ada halangan teramat sangat seputar dokumen resmi bagi UAS. Semuanya lengkap. Tentu UAS jadi tersentak. Ia tak menyangka akan dapat ‘perlakuan tak mengenakkan’ itu. Singkat kisah, otoritas Singapura tanpa basa-basi harus jelaskan semuanya. Situs resmi Kemendagri Singapura pada 17 Mei 2022.
Sikap Hati, Kata dan Seruan
Dapat ditangkap isi kunci rasionale Pemerintah Singapura. Sulit diterima oleh Pemerintah Singapura kotbah UAS tentang ‘bunuh diri dalam konteks konflik Israel – Palestina. Kotbah UAS pun acapkali beraura ekstrem, pun beraroma segregasi yang kental. Tentu akan merepotkan warga Singapura yang pluralistik dalam ras dan agama.







