Lain Padang, Lain Belalang – Lain Lubuk, Lain Ikannya

Kons beo3

Salahkah Singapura bila ia memang harus berantisipasi agar ‘jangan sampai rakyatnya terganggu?’ Kita tak menyangkal bahwa Abdul Somad adalah ustad terkenal. Ia punya pengaruh luas.  UAS telah menimbah ilmu hingga ke Al-Azhar-Mesir meraih S1, bergelar S2 dari Institut Darul-Hadits Al Hassania-Maroko  hingga gelar S3 di Universitas Islam Umdurman – Sudan.

Sayangnya, oleh Pemerintah Singapura, bila harus ditafsir, wawasannya dan terutama hatinya tak seluas dan selebar dunia tempat ia menuntut ilmu.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Semoga Tidak Melebar

Dari kisah sedih di Singapura, UAS pasti sudah punya feeling atas kisah-kisah semirip sebelumnya. Bukankah ia pernah ditolak dan perlakuan serupa di Hongkong, Timor Leste, Belanda, Jerman dan Inggris dengan alasan-alasan semirip pula? Satu tantangan yang tak kecil untuk orang ‘sebesar dan sekelas’ Ustad Abdul Somad.

Tetapi, ada hal yang bisa saja lebih berbumbu sana-sini. Sebab Indonesia umumnya kreatif dan produktif untuk lebarkan soal. Itu sekiranya ‘kisah sedih UAS mulai diseret-seret’ ke ranah politik. Politisasi kasus bukan barang baru, dan malah tak dianggap tabu. Apakah sebentar lagi Kedubes RI di Singapura dianggap tak melindungi dan memperjuangkan warganya?

Mungkinkah akan muncul ulasan rangkaian konflik segala lini antara RI dan Singapura, dan imbasnya orang setenar UAS mesti menjadi tumbal atau korbannya? Atau, seperti biasanya, pemerintah dan terutama Presiden Jokowi akan dipersalahkan karena kurang tahu berdiplomasi demi warganya yang terhormat? Dan ujung-ujungnya segera ada demo turunkan Jokowi?

Pos terkait