Lain Padang, Lain Belalang – Lain Lubuk, Lain Ikannya

Kons beo3

UAS dengan segala ceramahnya tetap piawai, anggun dan ‘harum semerbak’ di kuping para pendengar dan junjungan setianya. Tetapi, sekali lagi, apakah pihak lain, terutama kelompok yang berdampak langsung, terpaksa atau dipaksa mesti menerima begitu saja? Tetapi, sudahlah! Kelompok ‘salib dan yang tersalib, yang dicap kafir’ tetap punya kekuatan untuk ‘melihat semuanya dalam doa, kasih dan pengampunan.’

Singapura Punya Kedaulatan Sendiri

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Tetapi, apakah itu berlaku juga untuk entitas sekular seperti Singapura sebagai satu negara berdaulat? Rasanya di sini, UAS sepertnya harus terbentur pada satu karma politik yang berakar pada ceramah agama darinya.

Sikap pemerintah Singapura jelas dan tegas. UAS mesti ‘dipaksa pulang.’ Kita hanya sebatas berspekulasi ‘mengapa UAS dihadang dan dipulangkan’ itu tentu hanya dari garis pantai pemikiran punya kita sendiri.

Maka, berdirilah juga kita  di ‘alam hati dan pemikiran Singapura.’ Dan, yakinlah bahwa pemerintah negeri mungil itu lagi ‘tak sombong blagu.’ Ia sungguh mau bertanggung jawab atas kedamaian dan keteduhan hidup warganya dalam satu sikap preventif yang elegan. Pertalian relasi antar warga yang multi etnik dan multi agama sekiranya tak boleh terpolusi oleh kata-kata, ucapan-ucapan yang hanya ‘bikin onar saja.’

Dan Ustad Abdul Somad persis berada pada ‘jalan yang dianggap berbahaya.’ Ini semua agar jangan sampai berpengaruh minor pada warga Singapura. Mungkin hiperbolik dan tendensius untuk berilusi sekiranya muncul kata-kata pemerintah Singapura, “Saudara UAS, silahkan kembali saja ke tanah airmu. Kami, Singapura, masih terlalu lemah dan tak kuat hati untuk menerima kehadiranmu. Iya, bila teringat ceramah-ceramah ekstrimmu itu…”

Pos terkait