Lain Padang, Lain Belalang – Lain Lubuk, Lain Ikannya

Kons beo3

Rupa-rupanya demo atau gerakan di Kedubes Singapura atau demo turunkan Jokowi terlalu ‘mengada-ada.’ Tetapi, siapa tahu saja terjadi. Sebab bagi para bohir atau pemakai jasa demo, peluang sekecil apapun bisa dimanfaatkan.

Sekiranya Dapat Berbenah

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Tetapi, bila Singapura ditilik dengan hati sejuk, maka tidak adakah sebuah ‘blessing in disguise’ di balik kisah Terminal Feri Tanah Merah itu? Kaum ulama, ustad, kaum rohaniwan, para klerus, para pendeta, para biksu, para religius bisa tergerus dalam peristiwa-peritiwa ‘salah kata-salah ucap, salah sikap dan perlu laku.’

Sepantasnya inilah momen bagi siapapun dipanggil untuk berbenah dalam segalanya. Banyak doa dan harapan agar Ustad Abdul Somad dan siapapun yang serupanya bisa masuk dalam aura dan sikap ‘tengoklah ke dalam sebelum bicara.’ Sebab, kedaulatan dan kehormatan kata-kata itu terletak pula pada ‘telinga dan hati orang yang menangkapnya.’

Akhirnya..

Ini benar-benar “Lain Indonesia, lain Singapura; menang kata di tanah sendiri, mati kutu di tanah orang.” Kita tak serta merta bebas merdeka masuk di tanah orang. Pun masuk dalam hati sesama kita.

Sebab, sehebat apa pun kita, pihak lain tetap punya syarat yang mesti dipenuhi. Dan di situlah menjadi nyata bahwa kerendahan hati selalu unggul dari kesombongan kata dan sikap.

Dan bagi Ustad Abdul Somad dan bagi kita, dari negeri Singapura sebenarnya datang seberkas cahaya terang. Menyinari hidup semua. Sebab  “Ini bukan hukuman. Hanya satu isyarat. Bahwa kita mesti banyak berbenah….

Verbo Dei Amorem Spiranti

Pos terkait