Tak berhenti di situ. Pemerintah Singapura sekian serius tanggapi segala celotehan sakarstik UAS akan komunitas agama lain. “Di salib itu ada jin kafir” dan sekian terangnya tegasan UAS akan “komunitas non-muslim sebagai kafir” adalah sinyal amat buruk untuk alam kerukunan dan toleransi di Singapura.
Kini, harga mahal mesti dibayar UAS. Biarlah ia sebatas tertahan di Terminal Feri Tanah Merah untuk tak usah shopping pun beranjangsana di Singapura.
Kisah miris penceramah kondang seperti Abdul Somad tentu membahana. Ada suara yang menyayangkannya serentak membelanya. Fadli Zon, misalnya soroti tindakan Singapura sebagai ‘penghinaan terhadap seorang warga negara Indonesia yang terhormat.’
Fahri Hamzah yang berkomentar jenaka namun pedis untuk Singapura yang dianggap sombong, “Negara se-Upil aja blagu.”
Yusril Ihza Mahendra nampak kalem untuk meminta Pemerintah Singapura untuk jelaskan tindakannya. Demi tak muncul spekulasi atau salah paham.
Hal senada ini juga disampaikan Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum MUI. Pun tetap muncul komentar klasik si Novel Bamukmin, “Ini penghinaan terhadap ulama.”
Tafsiran demi Tafsiran
Ustad Abdul Somad sendiri sudah beri tanggapannya tentang ‘penolakan Singapura’ terhadap dirinya. Setidaknya, bila harus ditafsir, UAS nampak lagi menarik rasa empati publik. Semacamnya ia dan rombongannya telah dizalimi Pemerintah Singapura.
Menyusuri segala postingan di media tentang kisah sedih UAS di Senin, 16 Mei 2022, nampaknya hanya ada ‘tafsiran demi tafsiran.’ Kita masih berdiri di tempat kita berpijak sampil memandang dari sudut pandang sendiri. “Setan, jin kafir, kaum kafir, bunuh diri” mungkin terasa normal keluar dari mulut kita. Tetapi, apakah layak dan sedap di telinga dan hati orang atau kelompok yang disasar?







