Dalam pandangannya, Melki menegaskan bahwa ia akan terus berjuang agar semua PPPK bisa lolos dari badai ini dan tetap bekerja dengqn aman. Dengan sekuat tenaga dan dengan berbagai cara ia melakukan terobsan. Mengapa Gubernur Melki meledakkan amunisi amarahnya yang terpendam dalam kesunyian kemiskinan NTT? Jawabannya sangat jelas dari peristiwa demi peristiwa terkait kebijakan politik keuangan pusat akhir- akhir ini yang seolah membelenggu daerah-daerah miskin makin terpenjara dalam jurang kemelaratan akibat beruntunnya kebijakan efisiensi dan pemangkasan anggaran.
Sebagai seorang aktivis, seorang politisi dan sebagai pemimpin, hatinya tentu merasa gelisah merasa cemas dan galau melihat rakyatnya yang makin susah. Ia merasa gelisah karena janji- janji politiknya saat kampanye dulu tidak akan terjawab semuanya lantaran anggaran sebagai peluru dan bom untuk meledakkan kemiskinan ekstrim habis dipangkas dan ditambah lagi dengan beban membayar hutang daerah ratusan miliar setiap tahun warisan pemimpin sebelumnya. Jadi suka tidak suka, Melki harus mengatur taktik dan strategi untuk membuka mata hati dan nyali seluruh pemerintah daerah di Indonesia yang merasakan kondisi serupa tapi sungkan, enggan dan takut bersuara lantang.
Para akademisi, pakar dan warga yang berada di luar arena politik mungkin membaca bahwa langkah Melki merugikan rakyat dan membahayakan nasib politiknya. Namun Melki yang berdiri di dalam arena panggung politik tentu punya strategi, taktik dan kalkulasi bagaimana melempar bola api ke tengah publik untuk menarik pemadam kebakaran meredam amarah rakyat yang menjerit. Adanya riak polemik dan gelombang kritik memberikan lampu hijau bahwa “umpan telah dimakan ikan dan siap ditarik ke meja takyat NTT.”







