(Tanggapan untuk Dr. Keron A Petrus)
Oleh Robert Bala
Dua tulisan (Delegasi 25/4 dan 2/5 dari (Dr Keron Ama Petrus (KAP) sudah saya baca dan coba selami. Sayangnya, oleh keterbatasan bahasa asli Lamaholot, saya kesulitan memahami beberapa ungkapan. Yang saya gunakan hanya akal sehat memahami sebuah wacana.
Yang membuat saya bertanya hingga menghadirkan tulisan ini: apa efek membangun opini tentang bencana sebagai murka di tengah kondisi saat ini? Memang KAP coba membangun pemikiran bahwa selain dilihat sebagai bencana alam, wacana korelasi antara perbuatan manusia dan murka leluhur perlu dilihat juga sebagai bagian dari penjelasan yang perlu diperhatikan.
Pertanyaan lanjutan, apakah membangun opini tentang masyarakat adat merupakan pemikiran yang kontradiktif terhadap ilmu pengetahuan? Jelasnya apakah antara adat dan badai seroja adalah dua model penjelasan berbeda?
Berhadapan dengan bencana alam, logika yang paling gampang adalah melihatnya sebagai kemurkaan Tuhan atau leluhur. Manusia dianggap telah ingkar terhadap tanggung jawabnya. Ia bahkan telah bersalah. Karena itu Tuhan atau leluhur ‘protes’ malah ‘murka’.
Jawaban ini umumnya diterima oleh masyarakat sederhana. Bagi mereka, setiap peristiwa bisa dijelaskan keterkaitannya peristiwa alam atau kejadian yang terjadi secara berurutan. Misalnya saja sebelum badai seroja ada suku yang melakukan peristiwa adat dan ternyata selamat maka itu adalah jawabannya. Atau bila mereka lakukan ritus adat tetapi tetap tidak selamat, maka itu karena ada kesalahan dalam proses adat.





