Leluhur Penyebab Bencana?

Robert bala

Iman yang Bertanggungjawab

Apa yang dapat dipetik dari tulisan ini? Pertama, penjelasan adat dan penjelasan ilmiah bukanlah dua model penjelasan berbeda dari fakta tetapi perlu saling melengkapi. Penegasan ini diberikan berhadapan dengan aneka tafsiran yang bisa hadir dan membingungkan. Memang pada masyarakat kebanyakan, kedua pemahaman ini kerap dihadirkan secara bertentangan. Namun di tangan para pemikir dan orang yang punya pendidikan, apalagi sampai memiliki gelar paling tinggi, mestinya sanggup menghadirkan tafsiran yang saling mengandaikan.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Yang terjadi, dalam tafsiran KAP, sambil tidak meniadakan peran ilmu pengetahuan, ia membangun logika tanpa penjelasan memadai. Lebih lagi ia coba masuk untuk menguraikan tentang “Nuda Kelekat” yang lebih kompeten untuk mengatur ritus adat yang untuk Adonara akan menjadi masalah baru. Mencari siapa yang lebih berperan akan menjadi sebuah pembangunan opini yang sangat sensitif yang akan masuk pada kondisi yang tidak akan mudah diputuskan (apalagi diterima begitu saja oleh yang terlanjur mengklaim sebagai ‘Nuda Kelekat).

Kedua, membangun spekulasi teologis-antropologis tentang murka leluhur sebagai  tesisnya harus dilakukan secara hati-hati. Disebut demikian karena tafsiran itu merupakan lanjutan. Di dasarnya perlu dibangun pemahaman tentang siapa itu ‘Ama Lera Wulan – Ina Tana Ekan’ (yang kita sebut sebagai Tuhan) saat menciptakan ‘tana ekan dan ata diken’ (alam semesta dan manusia).

Jelasnya, apakah Ia merupakan Tuhan yang seperti manusia tetap mengontrol manusia dan alam semesta? Apakah Ia tidak memberikan otonomi pada alam semesta dan manusia untuk menggunakan akal budi dan kehendaknya mengawasi semuanya?

Pos terkait