Pertanyaan ini umumnya sudah dijawab dan menjadi kesepakatan bahwa Tuhan yang maha besar begitu bijaksana. Ia tidak egois seperti manusia. Ia mecintapkan tanpa mengondisikan. Ia membuat segala sesuatu baik adanya dan memberikan otonomi. Artinya bila terjadi bencana alam maka itu perlu ‘dicek’ pada sejauh mana letak tanggung jawab manusia. Tentu saja tanggung jawab itu tidak hanya pada satu manusia sekarang tetapi merupakan akumulasi tindakan yang terjadi puluhan, malah ratusan dan ribuan tahun yang efeknya baru dirasakan sekarang.
Ketiga, penjelasan akal sehat tentang peran manusia ini tidak mengingkari peran adat istiadat. Adat sangat diperlukan karena bisa menghadirkan model refleksi sekaligus mewadahi adanya rekonsiliasi antara manusia dan alam. Sebuah rekonsiliasi yang kalau dijalankan maka ia tidak bisa diartikan dengan melerai murka leluhur atau Tuhan.
Dengan kata lain, dengan membuat adat, tidak berarti badai seroja, letusan gunung (seperti yang terjadi di Ile Ape) atau bencana alam lainnya akan tidak terjadi lagi. Ia tidak punya kaitan karena bencana itu bukan amarah Tuhan dan leluhur. Ia adalah fakta alam.
Lalu apa peran adat? Adat dapat membangkitkan dan mengingatkan manusia atas perannya. Di tengah makin banyaknya bencana alam oleh umur bumi yang sudah semakin renta maka manusia semestinya tidak membuatnya lebih parah dengan tindakan yang kontraproduktif. Manusia tidak perlu lagi mencelakakan atau mempersalhakan apalagi membangun opini yang mencemaskan (hal mana dibangun KAP).





