Leluhur Penyebab Bencana?

Robert bala

Yang perlu dilakukan adalah membangun kepekaan sosial. Hal ini sebenarnya sudah dibangun oleh KAP dengan menghadirkan Ago’pake laki-laki dan Ago’pake perempuan. Baginya, yang terjadi kini adalah Ago’pake laki-laki melalui aneka bencana alam. Diharapkan agar justru yang hadir menyapa manusia adalah Ago’pake perempuan yang lebih mendamaikan.

Tafsiran ini bisa diterima meski dengan terpaksa. Adanya dampak positif (ago’pake perempuan) atau negatif dalam bentuk bencana (ago’pake laki-laki) bukan dua simbol yang berdiri sendiri. Kita tidak meminta agar yang datang yang positif dan menghindari negatif. Dua kekuatan ini tidak berada di luar manusia. Ia justru berada di dalam diri manusia itu sendiri.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ketika manusia ada bersahabat dengan alam dan sesama, maka di sana ia turut menciptakan ago’pake perempuan. Tetapi ketika ia menjadi ingkar terhadap Tuhan dan lewo tanah, ia menjadi egois, acuh tak acuh terhadap arah banjir yang harus diberi tempat dan bukannya membangun tembok menghalangi, maka ia sebenarnya telah mengundang ago’pake laki-laki untuk segera bertindak.

Model beragama dan adat seperti inilah yang mestinya dibangun. Ia akan lebih mempan dan efektif karena di sana dibangun model beragama dan adat yang lebih dewasa dan bertanggung jawab hal mana sangat dinantikan saat ini. Tak heran yang akan lebih diutamakan adalah gambaran tentang kehadiran Tuhan dan leluhur yang lebih ‘fascinosum’ lebih menarik dan mendewasakan dan bukan ‘tremendum’ yang menakutkan dan hanya menghadirkan model beragama yang infantil. (*)

Pos terkait