Masih Adakah Selera Humor di Hati Kita?

Kons beo3

Humor: Dibenci dalam Agama?

Yang paling menyedihkan bahwa alam humor dianggap oposisi serius dari satu dunia nan sakral. Tak boleh ada senyum dan tawa dalam selebrasi iman. Sebab sudah dipastikan bahwa Tuhan jelas bersorot mata tajam jika  ada umatNya berjenaka dalam ruang kudusNya.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Agama dan ritualnya adalah kepastian. Tak boleh dicorat-coret oleh ‘aksi-reaksi maen gila bodok.’ Sebab yang terperankan adalah bagian dari alam penuh khusuk, hening, syahdu, meditatif dan kontemplatif. Humor dan aksi kocak tentu tak boleh dapat celah sedikitpun.

Tuhan dalam agama, katanya, bukanlah Tuhan humoris penuh tawa. Ia bukan Tuhan yang melebar dalam  senyum jenaka. Apalagi sebagai Tuhan yang tertawa terbahak-bahak. Dan, katanya pula, kaum tertentu yang dipanggil dan dipilih Tuhan, setidaknya harus terlatih untuk tertawa ‘yang punya forma terukur.’ Itulah aksi ‘tertawa religius’ yang tak asal ‘tempias terkekeh-kekeh.’

Pernahkah terpikirkan bahwa agama tanpa sense of humor bisa membahayakan? Saat keseriusan dalam agama mesti dijaga amat ketat. Humor tak boleh ada dalam agama dan keyakinanku. Yang kuanggap pasti, sungguh, dan benar! Namun anehnya, ada usaha penuh geli untuk ‘menghumorkan’ agama dan keyakinan orang lain.

Humor itu Lompat Batas

Humor dan segala lantun jenakanya adalah pintalan tali temali yang merekatkan. Yang memperkaribkan satu dengan yang lain. Dalam kesemestaan. Tanpa pembedaan dan pembatasan apapun. Sebab, humor itu bebas dari nuansa SARA. Ia bahkan melampauinya.

Gairah humor tak pedulikan batas dan segala tembok dan ruang pemisah manapun. Humor pun tak mau ‘diper-agamakan dalam keyakinan tertentu belaka.’ Kisah humoristik yang piawai itu bebas dari pasal penistaan agama. Kejenakaan yang sehat dan dalam  kewajaran dari mimbar gereja, misalnya, tidak bisa dikutuk hanya karena ‘pengarang humor itu diklaim dari seorang saudara  muslim.’

Pos terkait