Humor Itu Anti Politisasi
Yang jadi masalah kini adalah bahwa originalitas humor sudah dipasung sejadinya. Ia jadi tak lepas bebas merdeka. Sebabnya, itu tadi, bahwa humor tak tampak lagi sebagai subyek dalam dirinya. Yang jadi prima causa dari segala senyum dan tawa semesta. ‘Humor telah dikudeta dan sudah kehilangan pamornya yang seharusnya.
Rasa permusuhan, ketidaksukaan serta kebencian, telah mendobrak ‘humor’ dalam candaan oleh hanya sekelompok. Di sini, ‘humor sakarstik’ dibangkitkan kembali. Sebab orang bisa bergairah dalam candaan ‘saat yang dianggap lawan atau musuh’ berada dalam kemalangan, kesedihan, dan penderitaan.
Dan lagi, orang bisa bersembunyi serta berkelit dalam ‘sekedar candaan atau humor’ saat satu dua hal serius ditanggapi publik sebagai penistaan.
Humor teraplah humor yang lahirkan suasana senyum bersama. Ia bukan sekedar politisasi lucu-lucuan yang menyasar sesama dalam hinaan dan sarat kepentingan untuk mempermainkan yang tanpa batas dan sungguh merendahkan.
Citra Humor Mesti Dipertahankan
Apa yang diyakini dan diteorikan oleh Freud sungguh diamini Maslow dan Allport. “Kepribadian yang sehat dan matang diperlihatkan oleh gaya humor yang non-hostile, philosophical dan self-accepting.”
Namun sayangnya, seturut mata analisis Maslow dan Allport, humor yang sehat itu jarang terjadi. Kita kehilangan panggung jenaka yang ‘bikin kita tertawa lepas bebas.’ Sebaliknya kita hanya dibuat ‘makan hati’ untuk melihat hanya sekelompok orang yang mempermainkan sesamanya dalam lucu-lucuan tidak pada tempatnya.





