Sebagai kader partai, Melki patuh pada penugasan partai. Melki tinggalkan Senayan dan kembali ke NTT. Patuh pada penugasan partai, itulah jiwa korsa seorang politisi. Dalam rumusan tegas, pilihan untuk maju bertarung merebut kursi Gubernur NTT bagi Melki bukan opsional, tetapi imperatif. Bukan pilihan, tetapi perintah.
Publik NTT sangat tahu, kepatuhan Melki pada penugasan partai itu sudah dibuktikan dengan kinerja, kepedulian, perhatiannya sudah sejak dia menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI yang membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan. Lima tahun menjabat sebagai wakil rakyat NTT di DPR RI, Melki meninggalkan jejak karya yang luar biasa dan monumental. Puluhan puskesmas, puskesmas pembantu, Rumah Sakit Pratama, Rumah Sakit Pemerintah Pusat, balai latihan kerja (BLK) hadir di NTT. Jika dikonversi ke rupiah, nilainya menembus bilangan triliun.
Hasil kerja, kinerja dan kepeduliannya yang luar biasa ini, bagaimanapun juga, menempatkan Melki sebagai calon gubernur dengan popularitas dan elektabilitas paling tinggi oleh lima lembaga survei. Dipasang dengan Johni Asadoma sebagai bakal calon Wakil Gubernur NTT, duet ini juga menempati popularitas dan elektabilitas tertinggi. Jauh unggul dari nama-nama lain.
Duet Melki-Johni sudah resmi mendaftar di KPU NTT. Duet ini siap tempur merebut hati rakyat. Dengan modal politik yang sangat besar, Melki-Johni siap membangun NTT dengan dukungan dan modal politik di pemerintah pusat.
Ketika menerima amanah dari partai, Melki-Johni sadar sungguh ada agenda besar, penting dan urgen yang ditugaskan kepada mereka. Untuk kepentingan NTT, untuk kemajuan NTT, untuk pembangunan NTT duet Melki-Johni akan pasang dada.







