Pemilu dan pilkada serentak tahun 2024 adalah perayaan yang harus dirayakan dengan penuh sukacita. Untuk memastikan perayaan berlangsung dengan baik maka KPU butuh penatalayan-penatalayan yang siggap, responsif, bertanggung jawab serta penuh dedikasi.
Spirit penatalayan demokrasi adalah spirit kolektif, kerja sama yang kuat. Tiga orang PPS yang terpilih bukan sekadar karena ia lolos seleksi tetapi harus dimaknai sebagai utusan terbaik dari Lewo, Kampung, Desa.
Demikian juga lima orang PPK yang terpilih sebagai utusan terbaik dari kecamatan. Mereka memikul tanggung jawab besar untuk menjaga nama baik desanya, nama baik kecamatan. Dalam perspektif budaya Lamaholot (baca : Flores Timur dan Lembata) utusan terbaik ini disebut Ata Dike (orang baik) yang memikul Koda Kiri (pesan-pesan ) dari Lewo, kampung, desa dan kecamatan.
Predikat Ata Dike adalah tuntutuan sekaligus keterpanggilan untuk memberikan yang terbaik, komitmen untuk menjaga dan merawat sesuatu yang suci, luhur yakni koda (sabda, aspirasi ) dari para pemilih.
Sebagai utusan dari lewo, kampung, desa, kecamatan setiap peserta mempunyai hak yang sama untuk terlibat dalam sebuah proses seleksi sesuai regulasi. Ketaatan memenuhi tuntutan administratif juga bentuk kecil dari sebuah proses tanggung jawab para calon. Mempersiapkan diri dengan banyak membaca literasi tentang kepemiluan sebagai persiapan mengikuti test harus dimakani sebagai langkah untuk memantaskan diri agar tidak gagap memahami regulasi kepemiluan.





