Dalam diri St. Fransiskus dari Assisi ‘proklamasi ketanpaan’ jadi tak terhindarkan. “Segala sesuatu mesti dilepaskan untuk mengikuti Yesus” (Luk 14:25 – 33). Sebab, hati lepas bebas mesti diraih sebagai kemutlakan demi kiat persahabatan nan tulus dengan sesama dan alam dunia.
Tetapi….
Tidakkah dunia tetap gelisah akan pundi-pundi egosentrik yang terasa selalu saja tak gemuk dan tak gendut? Demi gunung harta dan bukit berkelimpahan, kaum tamak dan serakah tetap saja kesulitan untuk sanggup ‘menatap saudara-saudaranya sendiri di lintasan seberang.
Bagaimana pun…
Ini tak berarti bahwa harta duniawi itu tak bernilai. Tidaklah demikian. Harta duniawi mesti dinafasi dalam citra solider. Semuanya mesti jadi saluran bagi manusia untuk semakin manusiawi.
Di titik inilah Paus Fransiskus tak pernah jenuh bersuara demi ‘keadilan, solidaritas, perdamaian, demi hidup bersama dalam persahabatan, kerukunan.’
Demi semesta raya nan asri, Paus Fransiskus bicara lantang tentang perang melawan segala ikhtiar yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup.
Jauh-jauh sebelum ketibaannya di Indonesia, alarm ‘kesederhanaan’ telah dihembus. Bukan hal baru jika Paus Fransiskus memohon, bahkan menuntut, untuk tidak diperlakukan istimewa selama hari-hari pastoralnya di Indonesia. Paus ingin seperti apa adanya.
Tak pakai pesawat jet pribadi dari Fiumicino Areoporto di Roma hingga Soekarno – Hatta di Cengkareng, serasa biasa-biasa saja bagi Sri Paus. Juga tak ia ingin berkendaraan ‘mewah’ menuju pusat Kota Jakarta, bukanlah satu kehebohan. Cukup dengan ‘Kijang Toyota Innova Zenix’ bagai seorang penumpang taksi bandara menuju Kedubes Vatikan, sudahlah pas di titik cukup.





