Namun, ternyata ‘yang biasa, yang pas, yang cukup dan apa adanya’ itu sudah menggetarkan hati Indonesia Raya. Ketika kita lagi didekap dan mendekap erat segala geliat varian kemewahan. Saat kita sepertinya tak bersolider, merasa senasib dan sepenanggungan dengan jutaan saudara-saudari sebangsa dan setanah air yang tetap dalam serba ketidakpastian nasib! Paus Fransiskus tetap menolak mewah. Iya, Sri Paus menolak untuk ‘dijarakkan sekian jauh dari segala kenyataan.’
Bagaimana pun, akhirnya, saya mesti teruskan satu catatan sungguh serius. Tanggapan seorang Umat Allah sepenuh hati nan tulus. Apa adanya. Tulisnya buat saya, pada Selasa, 4 Sept 2024, pkl 14:25.
“Luar biasa nonton di TV. Paus sederhana, diapresiasi tokoh muslim di Indonesia. Jangan hanya pejabat, awam, tetapi para imam Indonesia: Stop gaya hidup hedon!”
Terima kasih untuk cinta dan perhatianmu dalam kata padat makna ini.
Verbo Dei Amorem Spiranti
- Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma





