Dan ‘yang masih kurang’ itu saya yakin terasa ‘berat dan tak mudah bagi seorang Budi Kleden. Dia harus ‘jual, lepaskan, tinggalkan alam SVD yang telah merahiminya, melahirkan dan membesarkannya.’ Iya, Pater Budi ‘mesti beralih dari segala alam konfraternitas SVD.’ Walau tentu, spirit hidup sebagai seorang religius dan misionaris akan tetap menjiwa dan mendaging baginya.
Budi adalah seorang Jenderal yang kini mesti alami kisah pertarungan batin time to say goodbye untuk para sama saudaranya di negeri-negeri Asia, Eropa, Australia, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan tentu juga Afrika yang amat dicintainya. No Oce – Waibalun memang telah hadirkan dirinya dan memberikan perhatiannya pada ‘alam SVD di manca negara.’ Namun..
Sepertinya semuanya itu mesti ‘terhenti.’ Di kamar makan Collegio del Verbo Divino – Roma, di Sabtu, 25 Mei 2024 itu, wajah seorang Jenderal tampak sembab. Iya, benar-benar sembab tak ceriah. Pater Budi harus pasrah pada putusan Takhta Suci. Ia mesti kuat hati untuk dengarkan surat dari Propaganda Fide yang dibacakan oleh Pater José Antunes da Silva, SVD, wakil Superior Jenderal.
Dalam permenungan sekadarnya yang kocak, saya hanya berfantasi dalam nada alkitabiah, “Wah Budi, ketika engkau masih muda engkau memang berjalan ke mana saja engkau kehendaki, kini perlahan engkau harus menjadi tua, engkau harus ulurkan tanganmu, dan Takhta Suci harus mengikatmu dan menuntun ke tempat yang tak pernah engkau bayangkan dan apalagi engkau impikan sedikitpun sebelumnya….”







