Oleh Tony Kleden
SEKITAR 1,5 jam kami bincang-bincang dengan Mgr. Petrus Turang, Pr di Istana Uskup Agung Kupang, Selasa (16/4/2024) pagi. Terbilang lama. Suasananya cair. Santai.
Di senja usianya yang sudah 77 tahun,Mgr. Turang terlihat masih fit. Penuh semangat bicara tentang kondisi umat Keuskupan Agung Kupang (KAK). Juga situasi sosial kemasyarakatan secara umum di NTT.
Dia sangat paham konteks sosio-antropologis masyarakat di Kupang, juga di NTT. Dia tahu bagaimana kondisi ekonomi masyarakat di sini. Pikiran-pikirannya yang dibahasakan dengan lugas dan apa adanya seperti menegaskan posisinya tidak saja sebagai gembala umat Katolik, tetapi juga sebagai tokoh masyarakat lintas agama dengan pengaruh dan karakter kuat.
Latar belakang studi S2 bidang sosiologi di Universitas Gregoriana, Roma menjadi bekal dan pegangan berharga mengemban tugas kegembalaannya di KAK. Latar belakang keluarga dari Manado, dengan mayoritas pemeluk
Kristen Protestan, sangat membantu dan memudahkan uskup kelahiran Tataaran, Tondano Selatan, Minahasa, 23 Februari 1947 ini memimpin umat KAK dalam rentang waktu 27 tahun.

Latar belakang sosial itulah yang menjadikan Mgr. Turang dikenal tidak hanya sebatas di lingkungan umat Katolik, tetapi juga lintas agama. Dia menerabas benteng SARA. Dia bersahabat karib dengan Haji Umar Said Badjideh, mantan Ketua MUI NTT. “Kalau ada pertemuan, saya tahu Bapak Haji Badjideh tidak bisa tahan duduk lama. Kami dua baku lihat lalu keluar istirahat dan isap rokok di luar,” kenang Mgr. Turang.







