Mgr. Petrus Turang, Uskup Yang Tegas Itu Telah Pergi

Mengenang Mgr. Petrus Turang 2
Dari kiri: Herman Seran, Mgr. Petrus Turang, Pater Dismas, SVD dan Tony Kleden. Foto kenangan terakhir, 16 April 2024

Dengan para pendeta, Mgr. Turang juga bergaul erat. Dia berinteraksi baik dengan para pendeta. Interaksi baik itulah yang mengikis prasangka umat Katolik dan Protestan di KAK yang seperti sudah menjadi belenggu sejarah.

Mgr. Turang punya pengalaman unik saat pertama kali mengunjungi Alor. Ketika itu ada pendeta yang bilang, “Bapa Uskup ingat, Pulau Alor ini Pulau Protestan. Saya bilang, sejak kaki saya injak pulau ini, sejak itu pulau ini jadi bagian utuh negara kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada lagi Pulau Protestan. Semua pulau di Republik Indonesia ini sama,” tuturnya mengenang.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Hasilnya? Kerukunan umat beragama di Alor terawat dengan baik. Perkembangan umat dan Gereja Katolik di Alor juga luar biasa. Kabupaten Alor yang sebelumnya hanya satu paroki, kini bertambah menjadi empat paroki. Paroki Kalabahi dengan 5 stasi, Paroki Moru dengan 4 stasi, Paroki Pantar 2 stasi dan Paroki Bukapiting dengan 6 stasi.

Di Alor, Mgr. Turang sangat diterima umat lintas agama. Dia bahkan ditandu umat agama lain  ketika mengunjungi Alor. “Mereka semua bersaudara, kaka adik semua,” katanya.

Penerimaan yang sama juga didapatnya dari umat agama lain di Rote dan Sabu. Di Sabu, Bupati dan Forkompimda setempat bahkan turun menjemput manakala  Mgr. Turang mengunjungi pulauyang masuk wilayah KAK ini.

Mgr. Turang memaknai kerukunan beragama itu sebagai perbedaan yang harus dirawat keseimbangannya. “Tuhan ciptakan kita berbeda satu sama lain. Maka kita mesti terus menjaga keseimbangan di antara perbedaan itu dengan hal-hal yang kecil dan sederhana,” terangnya.

Pos terkait