Mgr. Petrus Turang, Uskup Yang Tegas Itu Telah Pergi

Mengenang Mgr. Petrus Turang 2
Dari kiri: Herman Seran, Mgr. Petrus Turang, Pater Dismas, SVD dan Tony Kleden. Foto kenangan terakhir, 16 April 2024

Selain tampil sebagai gembala umat lintas agama, Mgr. Turang juga sangat konsern dengan ekonomi masyarakat. Baginya, masyarakat harus beres  dulu urusan  perutnya, baru imannya bisa  bertumbuh baik.

Lama duduk di  Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), membuatnya sangat mengerti dunia investasi dan investor.  Dia menggugat keberpihakan para investor yang datang berusaha di NTT.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

“Mana investor yang datang di sini dan kasih tinggal sesuatu untuk masyarakat? Tidak ada! Mereka datang dan ambil semua bawa pergi, tidak ada yang kasih tinggal untuk masyarakat,” kritiknya.

Itu sebabnya, dia sangat menganjurkan masyarakat terlibat dalam Credit Union (CU) untuk bisa mengembangkan ekonomi mereka. “Karena di situ mereka saling tergantung satu sama lain, saling menolong dan saling membantu,” tegasnya.

Disentil moto uskupnya “Pertransiit  Benefaciendo (Berjalan sambil berbuat baik) dan maknanya bag iperkembangan hidup umat, Mgr. Turang menjawab dengan simpel,  “Sebenarnya moto uskup itu artinya satu saja, semua umat harus bergerak bersama. Bersama berjalan berbuat baik,“ jelas Mgr. Turang yang ditahbiskan menjadi Uskup 27 Juli 1997 di Arena Pameran Fatululi (sekarang kompleks Lippo dan RS Siloam) Kupang.

Tahun lalu, tepatnya 9 Mei 2024, Mgr. Petrus Turang menyerahkan tongkat kegembalaannya kepada penggantinya, Mgr. Hironimus Pakaenoni, Pr.  Kurang lebih 27 tahun Mgr. Turang memimpin umat di KAK. Banyak suka dan dukanya. Ada capaian dan sukses yang luar biasa. Ada juga rencana yang belum terwujud.

Pos terkait