Teringat satu kisah nyata! Di satu Malam Natal nan kudus, sebelum misa berakhir, sang Pastor Paroki beri sambutan singkat dan padat makna. “Kepada Umat Allah sekalian, saya ucapkan Selamat Natal dan semoga aura Damai Natal meresap masuk dalam keluarga masing-masing dan di dalam hati kalian.” Gereja pada ramai bersorak bertepuk tangan. Namun, sang Pastor tak berhenti di situ. Lanjutnya,
“Harapan saya sebagai Pastor Paroki, ayolah sesudah Misa Malam Natal ini atau besok sesudah misa di Hari Raya Natal, bersegeralah pergi mendekati orang-orang yang belum Anda maafkan dan ampuni. Iya, kepada siapapun yang masih Anda kurung dalam penjara amarah dan bencimu. Pergilah ke rumahnya dan bawalah Damai Natal dengan hati tulus dan ikhlas.”
“Dan juga, berbesar hatilah pula untuk berlangkah menuju siapapun yang telah Anda sakiti dan lukai perasaan hatinya, kepada orang-orang yang telah Anda rugikan nasib hidupnya. Tumpahkan rasa salahmu dan mohonkan maaf dan ampun. Sebab Natal itu menuntut jiwa yang satria untuk memberi maaf dan mohonkan maaf…”
Sayangnya, ajakan dan himbauan Sang Pastor ini terasa menyentak. Tak ada tanggapan penuh gaduh nan sorak-sorai. Sebuah sepak pojok Malam Natal yang sedikit bikin ‘senyap suasana.’ Yang bikin Umat Allah terasa ‘diam sejenak. Amati tajam suara hati masing-masing.’ Menantang memang….
Natal Penuh Tantangan…
Zaman kini semua mesti serba mudah. Orang tak mau repot-repot yang hanya mau bikin pusing kepala. Manusia ingin segera lari dari kenyataan hidup yang pahit serta penuh tantangan! Iya, dari segala hal yang menekan rasa. Manusia tak mau berhadapan dengan ‘hal yang sulit-sulit dan alami kenyataan hidup yang keras.’ Yang diinginkan hanyalah kenyamanan, yang tak berisiko dan menuntut daya juang dan pengorbanan. Itulah eskapisme, yakni ‘cantik dan piawainya dalam berkaroseri sikap: hindari yang sulit serta segera mencari damai dan kenyamanan karbitan dan semu.







