Ini semua karena kita tak mau terjerat dalam ‘natal asal-asalan.’ Natal yang terblokir hanya pada titik-titik pelarian diri nan semu. Dangkal, tak mendarat dan tak mendalam…
Natal itu ‘Kisah Tuhan merendah untuk memelukku sebagai manusia dalam kenyataan. Dan aku pun memeluk sesama dalam kekariban kemanusiaan yang sederajat. Penuh sukacita…’
Iya, Natal mesti membawa kita pulang ke kemanusiaan yang seharusnya…
Verbo Dei Amorem Spiranti
* Penulis, Rohaniwan Katolik, tinggal di Collegio San Pietro – Roma







