Maka, tidakkah Natal itu sungguh telah ‘didandani semarak?’ Telah diramaikan dengan segala ornamen gempita? Bukan kah Natal itu telah jadi satu suasana penuh tampilan glamour? Di alam seperti inilah, riak-riak batin manusia segera ingin ‘bersembunyi..’ Iya, demi hindari kenyataan dan tuntutan yang menantang dan semestinya.
Natal: Awal Jalan Penuh Penghampaan
Natal itu alam nyata Tuhan kini hadir sungguh sebagai manusia. Yang surgawi indah ditinggalkan. Yang Ilahi tak hendak digenggam kuat-kuat. Tuhan sungguh jadi manusia dan masuk dalam nasib manusia. Penghampaan Diri Allah (kenosis) adalah tanda bahwa Allah masuk dalam kenyataan hidup manusia! Yesus adalah Tuhan yang menjadi Manusia. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan DiriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib..” Itulah pewartaan Rasul Paulus kepada orang-orang Filipi dan bagi Gereja sampai hari ini.
Ketika di jelang Natal, kita terkepung oleh euforia kerlap-kerlip penuh semarak, maka suasana Adventus tetap ‘menahan kita’ untuk tidak segera ‘melarikan atau meluputkan diri’ (escape) ke segala titik kegemerlapan. Kita memang mesti bersabar dan tetap bertahan di seputar ‘palungan sederhana kelahiran Yesus, Sang Juruselamat.’
Palungan Hati Buat Tuhan
Bagaimana pun, Natal tetap siapkan kita demi sebuah palungan hati yang ditata rapi, tulus dan polos. Kembali ke kisah Pastor Paroki itu, maka kuatkan hati sendiri untuk membawa pesan Damai kepada ‘yang belum dan sulit kita ampuni.’ Dan, rendahkan hati untuk mohon ampun dan maaf dari yang telah tersakiti oleh ragam ulah kita.’







