(Suatu Catatan Refleksi atas “Kisah Einstein”)
Oleh: Al Hayon Vinsens
Suatu ketika di kelas, Albert Einstein (1879-1955) menulis perkalian seperti ini, 1 x 9 = 9, 2 x 9 = 18 dan seterusnya 9 x 9 = 81. Dia lakukan dengan benar. Berikutnya ia menulis, 9 x 10 = 91. Sontak seluruh kelas menertawakan dia, bahkan mungkin ada juga celetuk tidak patut untuk si jenius ini; “Inilah kesalahan orang super pintar atas sesuatu yang sudah pasti”.
Di balik “kesalahan sengaja” atau “trik” ini, sebenarnya Einstein menunjukkan betapa super otaknya mencetuskan strategi lain dalam mengajar. Dua di antara tujuannya adalah untuk berpikir ganda; bahwa benar salah (tidak sesuai prinsip perkalian) dan untuk menyampaikan cara pandang baru terhadap realita. Kisah ini melegenda.
Atas reaksi tertawa warga kelas, Einstein mendiamkan mereka dengan penjelasan serupa ini, “Hanya satu kesalahan (sengaja) saya ditertawakan, namun atas sembilan kebenaran yang telah disampaikan, tidak diapresiasi. “Kesalahan memang terjadi dalam proses kehidupan ini. Karena itu jika kamu tidak melakukan kesalahan, maka kamu tidak melakukan apa-apa,” tegasnya.
Bagaimana “trik” bernalar Einstein ini mewujud pada kinerja pemimpin-pejabat terpilih yang siap melaksanakan tugas sebagai pemimpin-pejabat definitif? Apakah “trik” ini diakomodir untuk menggolkan “terobosan baru” yang wajib hukumnya untuk diterima, ditaati dan dilaksanakan publik atau menghindarinya?
Enstein dan Wilayah Kelas
Kisah Einstein di atas terjadi di ruang kelas dimana wilayah berkuasa tidak luas. Sasarannya juga terbatas, tetapi yang harus dicatat adalah dampak idenya luas dan dirasakan. Sebagai pengajar, si manusia super pintar itu setara dengan pemimpin kelas selama proses pembelajaran. Semua mengikuti dia, juga “menertawakan” dia. Ia berkonsep, mentransfer pengetahuan, menguji kemampuan berpikir, memberikan pemahaman-pemahaman baru dan bersama warga kelas mendalami konsep dan mempraktekkan teori-teori.






