Mereka saling membelajarkan, bergumul dan diberi ruang untuk berdialog dan berpendapat. Sudah pasti sebagai warga kelas –kaum akademisi-, prinsip kerja mereka adalah “doing by process untuk sampai kepada hasil. Atas prinsip ini maka yang diutamakan adalah kerja keras (berdayakan segala potensi), kerja cerdas (pakai otak), kerja cermat (teliti dalam aplikasi teori) dan kerja sama serta sama-sama bekerja (libatkan seluruh diri dan kepribadian). Dalam berproses itu mereka semua terlibat utuh-penuh tanpa kecuali sampai kepada memetik hasil.
Einstein selaku pemimpin kelas seturut kisah di atas boleh membuat “kesalahan sengaja”. Kesalahan yang dilakukan untuk memancing reaksi dan kemudian melahirkan ide brilian untuk menyadarkan dan selanjutnya memproduk nilai-nilai hakiki untuk pembelajaran kehidupan dan jadi pegangan hidup, seterusnya tergambar pada praksis hidup.
Einstein membuka wawasan untuk berpikir ganda. “Kesalahan sengaja” sebagai trik adalah kesempatan emas untuk mengubah pola pikir dan membentuk pemahaman baru untuk kehidupan. Ia meletakkan dasar pemahaman yang unggul akan realita dan semestinya ditonjolkan dalam interaksi sosial sehari-hari. Darinya bangkit rasa hormat kepada siapapun dan eksplorasi potensi siap mendapat ruang dan kesempatan untuk setiap orang.
Pada posisi ini Einstein adalah pendidik unggul yang tidak hanya menekankan pembelajaran pada quality of brain (kualitas akal) tetapi juga pada quality of heart (kualitas akhlak). Sebagai pemimpin kelas ia menekankan long life education (pembelajaran sepanjang hayat) yang bukan semata proses intelektual tetapi perjalanan hati dan jiwa merengkuh kebenaran.






