Einstein telah memenangkan warga kelasnya dan sekarang para pemimpin-pejabat terpilih siap berjuang untuk memenangkan rakyatnya, karena rakyat telah memenangkannya. Menangkanlah mereka lewat kebijakan, peraturan dan eksekusi program yang berpihak kepada mereka. Menjawab kebutuhan populis.
Jika sanggup “memenangkan rakyat,” pemimpin-pejabat adalah “The leader who listens”, bukan “the leader for nato (no action talk only), atau “the leader who speaks” atau hanya “the leader who commands”. “The leader who listens” adalah topik tulisan wartawati kawakan bernama Miss Ruth Seldon, (Majalah Reader Digest, 1972, quoted by Kanis Pari, Jangan Takut Berpolitik, Jakarta: 2004).
Makna terdalam dari julukan itu adalah untuk menghindari pemimpin di era ini agar tidak melorot sebagaimana lazim ke pemimpin di suatu negara berkembang, yang bisa menjelma menjadi diktator yang main tindak, main kuasa kalau mau, namun sejauh mungkin berusaha menjunjung tinggi konstitusi dan tradisi.
Way out-nya adalah pemimpin-pejabat terpilih hendaknya mendengarkan apa kata rakyat, bahkan mampu mendengarkan apa yang tidak terucapkan. Karena diyakini hal-hal demikian sangat membantu pemimpin-pejabat memahami segala pikiran, kebutuhan bahkan keinginan mereka untuk maju, untuk BC dan GG di atas.
Menghadapi realitas yang sungguh kompleks di masyarakat di zaman yang sungguh transparan ini tanggung jawab pemimpin-pejabat adalah panggilan untuk memulihkan neurose individual dan sosial, menegangkan hukum yang elastis, kesenian yang tidak punya kreasi, agama yang menjadi sangat sentimental, the moral distability, moral yang kehilangan obyektivitas yang dalam tata nilai mengekor subyektivitas, kelompok sarjana dan cendekia yang tidak lagi menjadi kelompok referensi serta para pakar yang mampu merekayasa, sehingga bias keahliannya.






