Einstein memacu warga kelas untuk tidak hanya meruntuhkan tembok ketidaktahuan tetapi mendorong mereka untuk membangun jembatan dalam praktek menuju kebenaran sejati dengan tradisi berpikir kritis dan realistis, berdasarkan fakta dan data obyektif lalu menemukan solusi.
Peristiwa pembelajaran konsepsional di kelas bersama Einstein harus mewujud dalam praksis hidup nyata. Ini berarti ortodoksi kebenaran harus mewujud pada ortopraksis. Jadi yang paling utama adalah kebenaran (berpikir yang benar, berkata benar dan bertindak/ melakukan yang benar bahkan mengambil keputusan yang benar harus diapresiasi. Sedangkan “trik” yang digunakan (melakukan kesalahan yang nota bene secara sengaja) harus ditertawakan (dikritisi).
Pada koridor ini Einstein membekali warga kelasnya dengan pedang nalar yang tajam untuk membedah segala persoalan yang tersembunyi, menumpas hal-hal yang tidak benar dan siap untuk hidup dan berkarya dengan kebijaksanaan. Ia seperti menegaskan bahwa “pengetahuan tanpa kebijaksanaan bagaikan pedang tajam tanpa pegangan”.
Ada satu hal positif lain yang harus dicermati dengan mata kebijaksanaan manakala si empunya otak super ini “mengusulkan pada PBB agar dapat menggunakan tenaga atom bagi kesejahteraan umat manusia dan mencegah pembuatan dan penggunaan bom atom”.
Atas implementasi usul ini Einstein dianggap orang yang turut memenangkan Amerika dan Sekutu pada Perang Dunia II (Elshabrina, Fakta Unik dan Menarik; Albert Einstein, Penerbit Cemerlang Publishing, Sulawesi, 2013).






