Selaku pemimpin, dengan trik mengajar mumpuni, satu di antaranya “Sengaja salah” Einstein memang memperoleh kesuksesan dalam mengaplikasi konsep-konsep bernalarnya. Hasil pemikirannya sangat berkembang karena kerja keras, kemampuan analisisnya dan terinspirasi dari pemikir hebat lainnya. Tetapi semuanya tidak luput dari kritik (bisa juga ancaman) dan dukungan.
Pemimpin Terpilih Menangkan rakyat
Berkaca pada kisah kecil seputar Einstein, bagaimana dengan pemimpin-pejabat terpilih tatkala tampil memimpin di wilayah lebih luas dan menghadapi kenyataan lapangan lebih kompleks bersama warga masyarakat?
Fakta yang tidak bisa ditolak adalah unjuk kerja pemimpin-pejabat terpilih dinanti warga masyarakat, baik itu dimulai dengan unjuk kerja 100 hari pertama menjabat, kemudian berjenjang semesteran, atau tahunan.
Harapan dan cita-cita warga masyarakat secara umum, yakni unjuk kerja untuk bonum commune dan good governance, (Kesejahteran bersama dan pemerintahan yang benar -baik-). Tujuan yang mulia ini hendaknya menyata pada pencapaian melalui program-program yang bersifat populis.
Siapkah tujuan ini diemban dan diejawantahkan untuk beri bukti bahwa tanggung jawab pemimpin-pejabat bukan “pilihan” melainkan “panggilan” kehidupan (melayani)? Lalu, perlukah melakukan ”kesalahan sengaja” untuk mengupgrade kebijakan dan atau telurkan peraturan, kebijakan untuk meraih harapan masyarakat? Ataukah statis saja, hanya bermimpi tanpa membuat “the dream comes true”?
Sangat dianjurkan manakala menggunakan “trik” Einstein, perhatikan hukum kausalitas. Hukum ini juga menjadi rujukan Einstein dalam menjalani dan mengembangkan profesinya. Trik dan efek hukum ini akan sangat memungkinkan unjuk kerja pemimpin-pejabat, tidak hanya “ditertawakan” (sesuai arti literer) tetapi juga dapat melahirkan situasi chaos (protes dan demo), dan dengannya menjauhkan pencapaian tujuan unjuk kerja. Sang pemimpin dapat “lengser”.






